Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Pameran Batu Akik - di DPR 2015

By // 1 comment:

Pada tanggal 11 juni 2015 saya sedang ada kegiatan di DPR. Setelah menembus macetnya ibu kota sampailah saya di komplek DPR – MPR – DPD RI. Ternyata disana ada keramaian yang tidak biasa di gedung kura – kura. Karena penasaran lalu saya dekati, ternyata ada pameran batu mulia (batu akik) 2015  di pelataran gedung tersebut yang sudah berlangsung sejak hari senin tanggal 18 juni 2015. Wah menarik ini, kapan lagi bisa lihat koleksi batu akik koleksi jajaran staf setjen dan anggota DPR. Pasti koleksinya bagus dan istimewa. Ok segera saya selesaikan dulu urusan di DPR kemudian setelahnya langsung menuju ke pameran tersebut.

Memasuki ruang pameran lewat pintu samping dekat kantor cabang bank mandiri, suasana pameran mulai terlihat, di sisi kiri berjejer pedagang yang menawarkan batu akik dari berbagai jenis dan bentuk mulai dari batu bongkahan mentah sampai dengan cincin batu akik yang sudah jadi. Harga jual mulai dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Cukup melihat pemandangan saya lanjut ke ruangan pameran, ternyata ruang pamerannya tidak terlalu besar. Di dalamnya terdapat sekitar 60 etalase kaca tempat batu akik di pamerkan. Batu akik yang di tampilkan pada etalase tersebut merupakan koleksi jajaran staf Setjen dan anggota DPR, ada juga koleksi dari Dicky Chandra ex Wakil Bupati Garut. Koleksi batu akik yang ditampilkan bervariasi, menarik, unik dan langka.
Yang jadi perhatian utama saat memasuki  ruang pameran adalah cincin raksasa yang terbuat dari mata cincin berupa batu akik panca warna garut dengan cincin pengikat terbuat dari stainless steel dan baja. Cincin batu akik ini koleksi Fadli Zon yang merupakan Wakil Ketua DPR RI (dan anggota partai Gerindra). Cincin batu akik ini beratnya 70 kg dengan tinggi sekitar 40 sentimeter. Dengan ukuran tersebut cincin batu akik ini mendapatkan penghargaan rekor MURI sebagai cincin batu akik terbesar. Cincin batu akik ini menjadi pusat perhatian pengunjung baik yang ingin menyentuhnya untuk mengetahui lebih detail maupun yang ingin berfoto – foto dengan batu cincin yang unik tersebut.
Batu Panca Warna
Batu akik berikutnya yang menjadi perhatian pengunjung adalah batu bertuliskan lafaz Allah milik Titiek Hediati Hariadi atau Titiek Soeharto – anggota DPR RI dari partai Golkar. Bila diperhatikan dengan teliti pada batu berwarna dominan kuning kecoklatan ini terdapat warna putih yang membentuk tulisan Allah dalam bahasa arab. Batu ini berjenis kaladen dan berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta.
Batu Kaladen (Allah)
Koleksi lain yang menarik perhatian saya adalah liontin berukir yang ukurannya cukup besar. Liontin ini terbuat dari batu bacan yang terukir motif yang indah dan unik. Liontin ini berasal dari Maluku Utara/ Ternate dan merupakan koleksi H. John Kennedy Azis, SH anggota DPR RI dari partai Golkar. 
Liontin Bacan Ukir
Koleksi langka lainnya adalah batu bacan berbentuk keris yang juga koleksi H. John Kennedy Azis, SH. Batu bacan ini berwarna kombinasi hijau dan hitam, bentuknya meliuk – liuk khas seperti keris yang berkilauan jika terpapar cahaya.
Batu Bacan Doko Keris
Jenis -  jenis batu akik lain yang ditampilkan adalah kalimaya, pancawarna, bio solar, barjad api, mata kucing, bacan, rubi, sulaiman, kecubung, fosil kayu, red borneo, red arwana, teratai, junjung drajat, dan lain – lain.

Berikut ini gallery photo beberapa batu akik yang ditampilkan dalam pameran tersebut :
Batu Bunga Tulip
Batu Bacan
Batu Junjung Drajat
Batu Teratai
Batu Pirus Urat Emas
Liontin Panca Warna
Untuk melihat suasana pameran dan koleksi batu akik di DPR, silahkan lihat video ini :

Teater Betawi - Ondel - Ondel Jakarta

By // No comments:
Pasangan Ondel - Ondel Betawi

Ondel-ondel Betawi disebut juga sebagai bentuk teater tanpa kata-kata/tutur, karena pada mulanya ondel-ondel dijadikan sebagai perwujudan leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Ondel-ondel juga dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita. Sekarang Ondel-ondel menjadi ikon kota Jakarta.

Ondel-ondel berbentuk boneka besar yang di beri rangka anyaman bambu dengan ukuran tinggi kurang lebih 2,5 meter dan garis tengahnya kurang lebih 80 cm. Hal ini agar pemikulnya (biasanya seorang pria) dapat masuk ke dalamnya dan dapat bergerak leluasa. Rambutnya terbuat dari ijuk sabuk kelapa, bahan hiasan rambut disebut kembang kelapa. mukanya memakai topeng atau kedok, dengan mata bundar (bulat) melotot. Pakaian pria biasanya berwarna gelap dengan jenis pakaian pangsi sedangkan pakaian wanita berwarna-warni jenisnya baju kurung dan keduanya di hias seperti pakaian sepasang pengantin.
 

Ondel-ondel yang menggambarkan laki-laki wajahnya bercat merah diberi kumis melintang, jenggot, alis tebal, cambang, dan kadang dibuatkan caling, yang perempuan wajahnya bercat putih atau kuning diberi riasan gincu merah, bulu mata lentik, dan alis lancip. Ondel-ondel biasa digunakan untuk arakan pengantin dan sunat.


Lazimnya hanya sepasang ondel-ondel yang di bawa untuk memimpin arakan pesta perkawinan atau pesta lainnya, yaitu ondel-ondel laki-laki dan perempuan. Namun dalam perayaan umum seperti hari jadi kota Jakarta biasa di tampilkan beberapa pasang Ondel-ondel dengan tampilan pakaian yang lebih berwarna-warni ceria sehingga arakannya menjadi lebih meriah. Ondel-ondel juga sering tampil di jalan-jalan berkeliling kampung dengan harapan mendapatkan sumbangan dari warga (mengamen). Hal ini biasanya dilakukan pada tahun baru, baik tahun baru masehi maupun tahun baru China.


Musik pengiring ondel-ondel tidak tertentu, ada yang diiringi oleh tanjidor, gambang kromong, gendang, Ende, ningnong dan rebana. Saat ini ada beberapa kelompok ondel-ondel yang aktif melestarikan budaya ini, yaitu ondel-ondel pimpinan Gejen (Kampung Setu), ondel-ondel Beringin Sakti pimpinan Yasin (Rawasari). Adapula ondel-ondel pimpinan Lamoh (Kalideres) diiringi bende, ningnong dan rebana ketimpring.


Pembuatan ondel-ondel dilakukan secara tertib, baik waktu membentuk kedok/topengnya maupun waktu menganyam badannya dengan bahan bambu. Sebelum pekerjaan dimulai maupun setelah ondel-ondel jadi biasa diadakan upacara sesajen berupa bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam dan di bakari kemenyan. Istilah upacara ini disebut “Ukup” atau “Ngukup”.


Sumber : Intisari dari berbagai artikel.   

Baca juga :
Makanan, minuman dan jajanan khas Betawi 
Budaya Betawi - Istilah kekerabatan

Budaya Betawi - Istilah Kekerabatan

By // No comments:
Istilah Kekerabatan Suku Betawi

Dengan banyak film dan sinetron bertemakan kehidupan keluarga Betawi di layar kaca televisi nasional, maka kita banyak mendengar istilah kekerabatan keluarga di acara tersebut. Untuk itu ada baiknya kita mengenal lebih dekat dengan istilah- istilah tersebut sehingga kita dapat lebih memahami budaya Betawi. Masyarakat Betawi dalam hal kekerabatan menganut sistem patrilineal. Garis keturunan laki-laki dijadikan sebagai acuan untuk menentukan kekerabatan.

Istilah Kekerabatan Betawi yang umum :

1. Nyak

Kata “Nyak” merupakan panggilan untuk seorang ibu. Semua anak, baik lelaki ataupun perempuan memanggil ibu mereka dengan sebutan ini. Kata “Nyak” sebetulnya bentuk singkat dari kata “Enyak”.
 
2. Abah

Kata “Abah” merupakan panggilan untuk seorang ayah. Sebutan “Abah” biasanya digunakan untuk golongan santri kata “Abah” berasal dari bahasa arab.
 

3. Babe

Kata “Babe” merupakan panggilan umum yang dilakukan seorang anak untuk ayahnya. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan menyebut ayah mereka dengan sebutan “Babe” atau sering disingkat dengan “Be” saja.
 
4. Engkong

Kata “Engkong” merupakan panggilan untuk seorang kakek, kata ini berasal dari bahasa cina. Suku bangsa Cina atau Tionghoa ikut mewarnai etnis Betawi sehingga bahasa mereka turut memberi warna tersendiri dalam kekayaan bahasa Betawi.
 
5. Kumpi

Kata “Kumpi” merupakan panggilan untuk seorang buyut baik laki-laki maupun perempuan.
 

6. Nyaik (Nyai)

Kata “Nyaik” atau “Nyai” dipakai untuk menyebut nenek. Disamping itu, kata ini dapat digunakan untuk menyebut seorang wanita orang yang sudah tua dan dihormati.
 
7. Mpok

Kata “Mpok” adalah sebutan untuk memanggil kakak perempuan, kata yang sama juga dapat digunakan untuk menyebut seorang wanita yang usianya lebih tua dari yang menyebutnya.
 
8. Abang

Kata “Abang” merupakan sebutan untuk kakak laki-laki, kata yang sama dapat digunakan untuk orang yang lebih tua dalam hal usia dari dirinya.
 

9. Encing dan Mamang

Kata “Encing” dipakai untuk memanggil saudara perempuan dari bapak maupun ibu. Kata “Mamang” dipakai untuk memanggil saudara laki-laki dari bapak ataupun ibu.


Ada versi lain dari arti kata “Encing” ini yaitu tentang “Encang” ataupun “Encing”. Menurut versi ini memanggil dengan sebutan “Encang” ditujukan kepada kakak dari bapak maupun ibu  dan sebutan “Encing” kepada adik dari bapak maupun ibu (tidak dibedakan berdasarkan gender). analoginya seperti panggilan bu-de dan pak-de atau bu-le dan pak-le yang  pemanggilannya hanya dibedakan berdasarkan siapa yg lebih tua/lebih muda dari orang tua kita.


10. Besan

Kata “Besan” adalah sebutan untuk orangtua dari menantu (baik menantu laki – laki maupun perempuan. Ini merupakan bentuk hubungan kekeluargaan antara dua orangtua yang terjadi karena perkawinan anak mereka. 

11. Mantu

Kata “Mantu” artinya menantu, istri atau suami dari anak kita. Dapat juga berarti mengawinkan anak atau mengadakan resepsi pesta perkawinan anak.


12. Anak Bontot

Kata “Anak Bontot” atau sering di singkat “Bontot” adalah sebutan untuk anak termuda dalam suatu keluarga.

13. Misan

Kata “Misan” atau “Misanan” artinya saudara sepupu (keturunan kedua dari satu nenek, baik kakak atau adik, laki – laki ataupun perempuan).

14. Uwak bini

Kata “Uwak bini” adalah sebutan untuk kakak perempuan atau istri dari kakak laki – laki orang tua (Tante).

15. Uwak laki laki


Kata “Uwak laki laki” adalah sebutan untuk kakak laki – laki atau suami dari kakak perempuan orang tua (Paman).

Baca juga :
Makanan, minuman dan jajanan khas Betawi 
Teater Betawi - Ondel-ondel 
8 ikon budaya Betawi
Powered by Blogger.